ATLANTIS Di Indonesia. Kemungkinan Arkoelogi
Atlantis adalah sebuah kata yang menjadi magnet para peneliti masa silam dan para pencari harta karun. Para pencari harta karunlah yang terutama tidak berhenti menyibak misteri Atlantis, karena mencari bagaikan berjudi yakni bayangan pundi-pundi emas yang sangat memikat hati. Atlantis ditengarai sebagai suatu wilayah yang pernah jaya pada sekitar 11.600 tahun yang lalu. Peristiwa geologi pada sekitar periode tersebut cukup baik terekam dalam lapisan-lapisan tanah. Akan tetapi, fakta arkeologi dari periode tersebut masih sangat minim. Hal inilah yang membuat segalanya masih mungkin terjadi. Sampai sejauh ini ratusan bahkan mungkin ribuan lokasi di berbagai negara yang disebut-sebut sebagai Atlantis, misalnya di berbagai lokasi di Laut Tengah, Samudra Atlantis, Samudra Pasifik, dan Samudra Hindia. Arysio Santos, seorang ahli geologi dan fisikawan nuklir, melalui buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found (2010) menyebut bahwa Atlantis berada di Indonesia.
“Pertama adalah Atlantis Lemuria yang sebenarnya (Ibu yang Perawan) yang terletak di Indonesia dan dihancurkan oleh bencana Toba pada 75 ribu tahun yang lalu. Kedua adalah Atlantis yang sebenarnya (Putra) dihancurkan oleh letusan Krakatau pada 11.600 tahun lalu di akhir Zaman Es Pleistosen (Santos, 2010: 99).
Sejak terbitnya buku itu, berbagai media massa di Indonesia turut mengangkat pemberitaan mengenai Atlantis. Plato, filsuf yang lahir tahun 427 Sebelum Masehi, menyebut Atlantis di dalam dua dialog, yakni Timaeus dan Critias. Ia menyatakan bahwa Atlantis mempunyai peradaban yang tinggi dan masyarakatnya kaya raya, namun mengalami bencana dan akhirnya tenggelam. Karya Plato inilah yang kemudian mendorong banyak orang untuk berlomba-lomba mencari ‘benua yang hilang’, ‘peradaban yang terpendam’, dan ‘emas Atlantis’. Sampai pada tahap ini sebenarnya patut dipertanyakan apakah dialog Plato tersebut adalah terutama pada bagian yang menyebut Atlantis adalah fiksi atau atau nonfiksi. Ketidakjelasan status literatur tentu saja akan membuat penelitian menjadi tidak jelas alasan dan berpotensi besar untuk tidak mencapai sasaran. Santos juga menyadari hal tersebut, namun tetap mengunakan karya Plato tersebut.
“Sebenarnya pakar-pakar di bidang ini belum bersepakat apakah Atlantis pernah ada atau tak lebih dari khayalan Plato belaka: dongeng moral yang dibuat Plato sebagai latar belakang etis bagi republik khayalan yang ideal, yang ia kemukakan dalam karya-karya lainnya, khususnya yang berjudul Republik.” (Santos, 2010: 10).
Santos mencoba memberikan pernyataan-pernyataan untuk meyakinkan pembaca bahwa pernyataan Plato mengenai Atlantis adalah benar-benar ada. Santos menyebut telah menggunakan data-data dari berbagai disiplin ilmu.
“Ini berarti Plato tahu persis apa yang ia bicarakan dan ia memang tidak mengarang-ngarang cerita. Belum lama ini, kenyataan tentang bencana-bencana klimatis dan geologis berdampak global tersebut telah diakui para pakar di bidang ini dan disiplin-disiplin terkait, seperti: arkeologi, antropologi, paleoantropologi, paleontology, evolusi, klimatologi, dan sebagainya” (Santos, 2010: 14).
Buku ini dari sudut pandang arkeologi mengandung cukup banyak kelemahan, meski penulisnya menyebut kata arkeologi berulang-ulang kali. Sebagai contoh adalah sebagai berikut.
“Kami sendiri terang-terangan telah menemukan beberapa artefak arkeologis di laut-laut dangkal di wilayah Indonesia. Beberapa temuan itu difoto dari luar angkasa oleh satelit pengintai NASA dan NOAA. Beberapa lainnya diamati dari permukaan air dengan peralatan-peralatan lokal.” (Santos, 2010: 51).
Pernyataan Santos tersebut di atas, tidak dijabarkan lebih lanjut di dalam buku ini dan tidak dilengkapi dengan foto atau gambar artefak arkeologis yang dimaksud. Oleh karena itu, pembaca tidak dapat mengetahui artefak apa yang dimaksud, termasuk juga tidak dapat diketahui sejauh mana pengetahuan Santos mengenai artefak arkeologis.
Contoh lain yang menyebut kata arkeologi di dalam buku karya Santos adalah kalimat-kalimat berikut ini.
“Berdasarkan temuan berupa artefak yang sangat kuno, seperti padi-padian dan perkakas, para arkeolog Cina dan peneliti lainnya menunjukkan bahwa bertanam padi telah berlangsung di Timur Jauh sejak 15 ribu tahun lalu seperti di Korea dan sebagainya, mungkin lebih awal dari masa itu, dan itu berarti berlangsung pada Zaman Es Peleistosen juga. Kita akan membicarakan masalah penting ini lebih lanjut dalam tulisan panjang lebar berikutnya.” (Santos, 2010: 57)
Pernyataan Santos tersebut di atas, sama sekali tidak menyebutkan sumber bacaan. Teknik penulisan tanpa menyebut sumber atau literatur membuat buku ini sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tulisan panjang lebar yang diketengahkan Santos juga ternyata tidak membahas hal tersebut dan sampai akhir buku ini tidak diketahui sumber atau literatur yang digunakan Santos.
Pada bagian Bibliografi dari buku karya Santos dicantumkan beberapa buku atau sumber tertulis yang oleh Santos dikategorikan sebagai “Arkeologi dan Egyptology” dan “Arkeoastronomi” Berdasarkan judul-judul dan nama penulisnya, terlihat tidak terkait dengan arkeologi Indonesia. Selain itu, buku ini tidak satu pun menggunakan sumber-sumber hasil penelitian para ahli arkeologi khususnya prasejarah Asia Tenggara dan Asia Pasifik yang telah diakui reputasinya secara internasional. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa Santos mengutip pendapat yang tidak jelas sumbernya dan tidak jelas kapasitas penulisnya.
Meskipun menurut pengakuan Santos, buku ini berdasarkan hasil riset selama 30 tahun, namun terdapat kalimat-kalimat yang sangat melemahkan pendapat-pendapatnya. Pertama adalah pada bagian Pengantar Penerbit yang diberi judul Pusat Peradaban Atlantis yang Hilang itu Ternyata Indonesia, pada halaman 5 tertulis:
“Keinginan terbesar Prof. Santos adalah mengunjungi Indonesia. Namun hal itu tidak pernah kesampaian hingga akhir wafatnya. Ia wafat tak lama setelah ia menyelesaikan bukunya ini.”
Secara ilmiah, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa peneliti belum ke lokasi penelitiannya, sehingga Santos di buku ini tidak dapat menyampaikan kenyataan atau fakta arkeologi di Indonesia. Berikut ini pernyataan Santos yang menunjukkan bahwa ia tidak mempunyai fakta arkeologi, meskipun ia yakin akan menemukan kelak di kemudian hari.
“Tinggalan-penelitian ini begitu jelas terlihat sehingga kami sekarang tengah mengatur sebuah ekspedisi kelautan menuju tempat temuan-temuan ini berada agar kami dapat mengamati mereka lebih dekat.” (Santos: 2010: 51)
Seperti telah disebutkan, Santos tidak menjelaskan tinggalan atau temuan-temuan yang dimaksud, sehingga pembaca hanya diajak percaya pada pernyataan Santos namun tidak ada fakta arkeologinya. Ekspedisi kelautan yang Santos sebutkan juga tidak disebutkan hasilnya. Berdasarkan uraian di buku ini, tampaknya ekspedisi tersebut belum dilakukan, namun harapan Santos adalah sebagai berikut:
“Kedalaman temuan-temuan arkeologis ini juga harus benar dan semestinya terletak di kedalaman sekitar 50 meter, kedalaman yang cocok untuk penanggalan yang benar yang diperlihatkan dengan kenaikan permukaan laut.” (Santos, 2010: 53).
Perlu ditegaskan bahwa berita-berita mengenai Atlantis di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia sejauh ini belum didukung oleh fakta arkeologi. Oleh karena itu, buku karya Santos lebih tepat disebut sebagai sebuah proposal ketimbang sebagai laporan hasil penelitian. Sebagian kalangan boleh sependapat dengan proposal tersebut, sebagian lain dapat menyatakan bahwa proposal tersebut tidak sesuai dengan kaidah ilmiah dan tidak layak untuk diteruskan menjadi sebuah penelitian. Kalangan yang setuju dengan proposal setebal 677 halaman ini tentu saja harus melakukan penelitian dan menuliskannya agar dapat diuji oleh kalangan ilmuwan dan dapat dibaca oleh masyarakat umum.



00.54
hanafi.d'gugman
, Posted in

0 Response to "ATLANTIS Di Indonesia. Kemungkinan Arkoelogi"
Posting Komentar